Friday, 2 May 2014

[Realita] Mahasiswa Takut Nikah Saat Kuliah




5 Alasan Mahasiswa Takut Nikah Saat Kuliah

(KabarKampus.com) - Masih mahasiswa udah nikah? “Waw, pasti mereka hamil di luar nikah!“ Itu yang seringkali kita dengar ketika mahasiswa memilih nikah muda ketimbang pacaran. Anggapan itu beralasan karena tidak dipungkiri kehidupan mahasiswa saat ini tidak jauh dengan seks bebas.

Padahal bukan hanya perkara seks. Pernikahan berkaitan dengan masa depan, ibadah, keuangan, kecocokan, lingkungan sosial dan segala macam. Pernikahan menuntut bahagia dan susah bersama. Maka mahasiswa yang sudah berani menikah, adalah pasangan yang bertanggung jawab atas cinta mereka.

Namun tidak mudah untuk menjadi pasangan yang bertanggung jawab. Itulah kenapa banyak pasangan mahasiswa menahan gejolak asmara mereka hingga keluar ijazah kuliah.

Berikut 5 alasan kenapa mahasiswa takut nikah saat kuliah :

1. Kuliah Lebih Penting

Dengan kesibukan kuliah saja para mahasiswa akan merasa sangat kerepotan. Baik karena aktivitas organisasi, kuliah yang padat dan tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Bayangkan saja dengan kerepotan itu masih harus mengurus rumah tangga, membereskan rumah, hingga menangani permasalahan yang nanti timbul antara suami istri. Bahkan, jika anak telah lahir, mereka harus kerepotan untuk mengurusnya. Pemikiran semacam itu tentu sudah sangat mengerikan. Betapa melelahkannya mengurus rumah tangga sambil kuliah. Dikarenakan keluarga adalah hal utama dalam hidup, tentu kita akan lebih memilih keluarga dan menelantarkan kuliah. Maka sia-sialah perjuangan sang mahasiswa itu ketika masuk universitas impian dengan perjuangan melalui tahun-tahun perkuliahannya.

2. Belum Memadai Secara Finansial

Mungkin sebagian mahasiswa ada yang telah bekerja sambil kuliah, dan ada pula yang masih bergantung pada orangtua. Adapun mahasiswa yang sambil bekerja, tentu hal ini sangat berat. Biasanya mereka harus bekerja keras untuk mencari tambahan dalam membiayai kuliahnya. Akan sangat berat baginya jika ditambah harus menafkahi keluarga. Apalagi dengan mahasiswa yang sepenuhnya bergantung pada orangtua. Ia bahkan belum siap secara finansial, akhirnya kebutuhan keluarga masih dibebankan kepada keluarga. Ada pepatah yang mengatakan “cinta saja tidak cukup,“ atau “memang mau dikasih makan batu?

Walaupun kita termakan dengan cinta, ada kenyataan kehidupan yang tidak bisa dipungkiri bahwa kita butuh terhadap materi.

3. Tanggung Jawab

Menikah berarti memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pasangan dan anak nantinya. Terutama bagi pria. Di mana tidak hanya kebutuhan materi yang harus dipenuhi, tapi bagaimana istri dan anaknya kelak harus aman, baik dari segi fisik maupun psikis. Ketika dua orang menikah, mereka akan menghadapi banyak sekali permasalahan dalam hidup, baik di dalam rumah tangga ataupun dari pihak eksternal. Ketika menjadi mahasiswa tanggung jawab mereka hanya terhadap orangtua untuk meningkatkan penghargaan mereka di mata masyarakat, serta tanggungjawab terhadap diri sendiri untuk menyelesaikan sesuatu yang mereka mulai dan inginkan sejak dulu. Jika menikah semua tanggungjawab itu harus ditanggung sepenuhnya. Begitupula dengan segala permasalahannya yang harus dapat mereka pikul.

4.Belum Cocok

Jika belum cocok kenapa harus menikah? Toh, kita tidak mungkin menikah asal-asalan hanya karena rasa suka sesaat, atau karena hawa nafsu yang dapat membuat kita nantinya terjerumus dalam dosa. Akan lebih baik menahan semua itu dan bersabar. Menikah bukan perkara mudah. Jika tidak ada kecocokan, maka bersiaplah untuk menjalani pernikahan seumur jagung, dan menghasilkan calon anak dengan kondisi mental yang retak dan trauma berkomitmen ketika mereka berada dalam usia orangtuanya saat ini.

5. Tersandung Izin Orangtua

Restu orangtua adalah hal yang sangat penting. Sedikit sekali orangtua yang mengizinkan anaknya menikah muda. “Percuma saja dikuliahkan mahal-mahal kalau kuliahnya terbengkalai.” pikir mereka. Orangtua melarang menikah kadang bukan tak merestuhi hubungan cinta anaknya tapi mereka punya pertimbangan lain. Orangtua kita sering merasa paling tahu kehidupan anaknya di masa depan.

Jadi, menikah sekarang atau nggak, itu pilihan. Atau kamu beraninya cuman pacaran? []

Sumber:
http://kabarkampus.com/2013/02/5-alasan-kenapa-mahasiswa-takut-nikah-saat-kuliah/

Sunday, 9 June 2013

Strategi Komunikasi Partisipatif dalam Proses Pembangunan dan Perubahan Sosial

Foto: (thinkstockphoto)


Komunikasi adalah suatu bidang yang luas dan masih samar-samar. Bidang ini terdiri dari berbagai disiplin, kebanyakan saling tumpang-tindih, mempunyai nama yang berbeda dan merujuk ke kegiatan yang berbeda, tergantung dari perspektif pembicara. Misalnya, urusan komunikasi, pemasaran, dan korporasi adalah istilah yang mencakup berbagai cara untuk menyampaikan sebuah pesan, sementara isu, merek, dan manajemen pemangku kepentingan adalah istilah-istilah yang lebih baru untuk menunjukkan pendekatan-pendekatan yang ditemui dalam berbagai kegiatan komunikasi.[1]
Pembangunan, menurut Rogers (1986) adalah suatu perubahan sosial yang bersifat partisipatori secara luas untuk meningkatkan keadaan sosial dan materi (termasuk keadilan, kebebasan, dan kualitas mayoritas masyarakat yang tinggi) melalui perolehan pada kontrolyang lebih besar terhadap lingkungannya.
Dalam tataran ini, Rogers telah memberikan sebuah pendekatan baru pada masanya dalam pembangunan dengan memasukkan partisipasi yang luas. Ini mengisyaratkan bahwa keterlibatan masyarakat bukan sekedar menikmati hasil pembangunan tapi ikut secara aktif dalam proses-proses pembangunan. Partisipasi merupakan keterlibatan seseorang dalam situasi baik secara mental, pikiran, emosi maupun tindakan yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan dalam upaya mencapai tujuan yang ditentukan dan ikut bertanggung jawab terhadap kegiatan untuk mencapai tujuan tersebut (Adams, 1995).
Lebih lanjut Melkote dan Steeves (2006) menyatakan;
community participation means facilitating the aktif involvement of different community groups, together with the other stakeholders involved, and the many development and research agents working with the community and decision makers.
Sehingga partisipasi yang dimaksudkan tidak hanya pada individu, tapi juga komunitas dan kelompokkelompok komunitas yang ada di dalam masyarakat. Dalam perspektif ini, pembangunan masyarakat adalah suatu gagasan perubahan dari bawah (bottom up). Gagasan ini menghargai pengetahuan, keterampilan, kebudayaan, sumber daya, dan proses-proses lokal sebagai sesuatu yang penting. Pendekatan bottom up dan partisipasi merupakan prinsip fundamental dalam pembangunan masyarakat. Formulasi keduanya menempatkan komunikasi pada posisi sentral untuk menggerakkan proses-proses yang berlangsung.
Diaz Bordinave mencatat bahwa dalam pendekatan ini, partisipasi seringkali diharapkan
secara langsung oleh sumber dan agen perubahan. Dalam pendekatan Bottom up orang-orang dibujuk untuk mengambil bagian di dalam aktivitas mandiri, tetapi penyelesaian permasalahan lokal mendasar dipilih oleh agen pembangunan eksternal. Partisipasi orang-orang diarahkan. Padahal sasaran partisipasi tidak hanya bersifat pragmatis tapi juga lebih kepada kemandirian masyarakat. (Melkote and Steeves, 2006)
Komunikasi bagi pembangunan adalah sebuah desain dan penggunaan yang sistematis dari aktivitas partisipatif, pendekatan komunikasi, metode dan media untuk berbagi informasi dan pengetahuan diantara para-pihak (stakeholders) dalam sebuah proses pembangunan untuk memastikan salingpengertian dan konsensus yang menuju kepada tindakan. (Anyaegbunam, et al., 2004).

A. Model Desain Strategi Komunikasi Pembangunan
Dalam perkembangannya, perencanaan desain strategi komunikasi pembangunan mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Mulai dari yang bersifat top down, bottom up, hingga penguatan saluran komunikasi dialogis. Menarik untuk mengkaji bagaimana perkembangan perencanaan desain strategi pembangunan dan perubahan-perubahan yang dihasilkan dengan pendekatan yang berbeda.

B. Perubahan Sosial
Menurut Nursid Sumaatmadja Perubahan segala aspek kehidupan, tidak hanya dialami, dihayati, dan dirasakan oleh anggota masyarakat, melainkan telah diakui serta didukungnya. Jika proses tersebut telah terjadi demikian, maka dapat dikatakan bahwa masyarakat tersebut telah mengalami perubahan sosial”.
Menurut Soerjono Soekanto bentuk-bentuk perubahan sosial dapat terjadi
dengan beberapa cara, seperti :
1. Perubahan yang terjadi secara lambat dan perubahan yang terjadi secara cepat.
a. Perubahan secara lambat disebut evolusi, pada evolusi perubahan terjadi dengan sendirinya, tanpa suatu rencana atau suatu kehendak tertentu. Perubahan terjadi karena usaha-usaha masyarak at untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi-kondisi baru yang timbul dengan pertumbuhan masyarakat.
b. Perubahan secara cepat disebut revolusi. Dalam revolusi, perubahan yang terjadi
direncanakan lebih dahulu maupun tanpa celana.

2. Perubahan yang pengaruhnya kecil, dan perubahan yang pengaruhnya besar.
a. perubahan yang pengaruhnya kecil adalah perubahan pada unsure struktur sosial yang tidak bisa membawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi masyarakat.
b. perubahan yang pengaruhnya besar seperti proses industrialisasi pada masyarakat agraris.
3. Perubahan yang dikehendaki dan perubahan yang tidak diinginkan.
a. perubahan yang dikehendaki adalah bila seseorang mendapat kepercayaan sebagai 
pemimpin.
b. perubahan sosial yang tidak dikehendaki merupakan perubahan yang terjadi tanpa
dikehendaki serta berlangsung dari jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat yang tidak dingini.

C. Kesimpulan
Strategi pembangunan untuk menciptakan perubahan sosial di tengah-tengah kehidupan masyarakat, memerlukan sistem organisasi khusus yang menyiasati suatu rencana yang bertujuan untuk mewujudkan perubahan secara signifikan, diantaranya dari segi aspek kesehatan, mencari mata pencaharian, gaya hidup, ekonomi, dan politik.
Suprastruktur berfungsi mem-back up setiap aspirasi infrastruktur, bilamana golongan tertentu tidak melegitimasi program yang tidak disepakati secara bersama. Dengan kata lain terjadinya kegagalan untuk menciptakan difusi inovasi yang seharusnya memberikan pengaruh yang positif bagi masyarakat.
Peran komunikasi dan partisipasi dalam pembangunan, diantaranya adalah; (a) Pemberdayaan masyarakat, (b) Pemahaman bersama dan kesepakatan untuk berbuat, (c) Melatih kelompok interes di masyarakat, (d) Menciptakan kebijakan yang mampu memberikan keuntungan bagi masyarakat. 
Hasilnya, masyarakat akan merasakan, menghayati, dan menikmati setiap proses yang mengajak masyarakat untuk mengalami setiap prosesnya, maka dapat dikatakan bahwa masyarakat sudah mengalami perubahan sosial.


Daftar Pustaka 

Adams, W.M.1995. Green Development Theory. Dalam J. Crush (ed.) Power of Development.

London UK: Rouledge

Anyaegbunam, C., Mefalopulos, P., and Moetsabi, T. 2004. Participatory Rural Communication
Appraisal: Starting with the people. Handbook 2nd Edition. SADC Centre of Communication for Development & Communication for Development Group Extension, Education and Communication Service Sustainable Development Department FAO, Rome

Ife, J., dan Tesoriero, F. 2008. Community Development: Alternatif Pengembangan Masyarakat
di Era Globalisasi. Edisi ke-3. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health. 1988. A Field Guide to Designing a health
Communication Strategy: A resousce for health communication professional. Population Comunication Services. Center for Communication Programs. Bloomberg

Melkote, S.R., and Steeves, H.L. 2006. Communication for Development in The Third World:
Theory and Practice for Empowerment. 2nd Edition. London and New Delhi: Sage Publication and Thousand Oaks

Rogers , E.M. (ed.) 1986. Communication and Development. Beverley Hills, California:
Sage Publication

Sunarto, Kamanto, Pengantar Sosiologi , Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI,
Jakarta, 1993.
Anonim, Undang-undang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, Sinar
Grafika, Jakarta, 2004.

MODEL-MODEL DESAIN STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

 



[1] http://www.mediatrust.org/training-events/training-resources/online-guide

Tuesday, 23 April 2013

Galeri Foto Bandung Lautan Onthel (Minggu, 24/3-2013)

Koleksi Foto ini aku ambil ketika sedang menghadiri sebuah Festival di Kota Bandung pada hari Minggu, 24 Maret 2013. Dalam rangka memperingati hari Bandung Lautan Api. Komunitas dari seluruh penjuru Provinsi di Indonesia menghadiri Festival ini yang dinamakan "Bandung Lautan Onthel", suatu apresiasi yang menarik untuk menjadikan Kota Bandung sebagai kota pariwisata. Kreatif, menarik, dan fenomena yang unik untuk selalu kita dukung dalam mempertahankan nilai-nilai historis, sejarah Negara Republik Indonesia. Masih banyak foto lainnya, tetapi ini adalah sebagian dari koleksi foto yang ada di dalam dokumenku. =D 

Penggemar Sepedah Onthel dari Surabaya

'
 Penggemar Sepedah Onthel dari Kalimantan

Peraih Rekor "MURI" Perjalanan Keliling Indonesia ke 33 Provinsi Selama 6 Tahun

Membeli Spare Part dan Accessories Sepeda Onthel
 

Tenda Onthel
 
 Foto: Trivan Saragih & Karta Munthe